Rabu, 14 September 2011

Harga Tragedi 9/11

Perang di Afghanistan dan Irak telah melemahkan ekonomi makro AS 

Peristiwa 11 September 2001, yang dikenal dengan Tragedi 9/11, merupakan ulah Al-Qaeda untuk mencederai Amerika Serikat. Tentu saja, niat itu berhasil. Namun, Osama bin Laden tak pernah membayangkan efeknya. Reaksi Presiden AS ketika itu, George W. Bush, menodai prinsip dasar negeri Paman Sam, menggerogoti perekonomian bangsa itu, serta melemahkan keamanan.

Serbuan ke Afghanistan pasca serangan teroris masih bisa dipahami. Tapi, invasi ke Irak sungguh tak ada kaitannya dengan Al-Qaeda - bagaimanapun kerasnya Bush berupaya mencari-cari hubungannya. Kemudian, perang AS melawan Irak menjadi amat mahal - yang pada awalnya membutuhkan lebih dari US$60 miliar (Rp551,5 triliun).

Ketika saya dan Linda Bilmes menghitung biaya perang yang mesti dikeluarkan AS tiga tahun lalu, angka kasar berada di kisaran US$3-5 triliun. Sejak itu, anggaran kian meningkat. Dengan nyaris 50 persen jumlah tentara yang kembali dan bisa menerima santunan cacat tubuh dan lebih dari 600 ribu veteran yang menjalani perawatan medis, kami menduga bahwa uang bagi tentara yang cacat dan biaya kesehatan akan mencapai sekitar US$600-900 miliar.
Di luar itu, biaya sosial yang muncul seperti tindakan bunuh diri yang diambil oleh para veteran perang (yang beberapa tahun belakangan menyentuh 18 kejadian per hari) dan retaknya rumah tangga tak bisa dihitung secara pasti.

Bahkan, jika Bush mendapatkan maaf atas jasanya menyertakan AS dan negara-negara lain dalam perak melawan Irak, tak ada ampun bagi Bush atas cara yang ia pilih untuk membiayai perang. Sepanjang sejarah, perang Bush itu adalah satu-satunya yang dibiayai sepenuhnya dari pinjaman. Pada saat AS tengah berperang, dengan defisit yang kian meningkat setelah pemotongan pajak di tahun 2001, Bush memutuskan bahwa golongan kaya di negeri itu pantas mendapatkan keringanan pajak.

Hari-hari ini, AS tengah berkutat dengan pengangguran dan defisit. Ancaman yang bisa menjatuhkan AS di masa mendatang dapat dilacak hingga perang di Afghanistan dan Irak. Melonjaknya belanja pertahanan, bersamaan dengan pemotongan pajak, merupakan faktor kunci yang menguak penyebab mengapa AS beringsut dari yang mulanya mencetak keuntungan fiskal hingga 2 persen dari PDB ketika Bush terpilih menjadi dirongrong utang. Belanja langsung pemerintah untuk kedua perang itu mencapai kira-kira US$2 triliun - US$17.000 per keluarga.

Selain itu, saya dan Bilmes menegaskan dalam buku kami yang berjudul "The Three Million Dollar War" (Perang Tiga Juta Dolar) bahwa perang di Afghanistan dan Irak telah melemahkan ekonomi makro AS dan memperuncing defisit serta utang. Kini, gejolak di Timur Tengah memicu membubungnya harga minyak. Bangsa Amerika dituntut mengeluarkan uang lebih banyak demi mengimpor minyak. Padahal, mereka bisa memakai uang itu untuk membeli lebih banyak produk domestik.

Namun, Bank Sentral AS (Federal Reserve) menyembunyikan keburukan itu dengan menciptakan gelembung kredit perumahan yang akhirnya mendorong ledakan konsumsi. Butuh bertahun-tahun untuk mengatasi masalah itu.

Kacau Balau
Ironisnya, perang itu telah bikin keamanan AS (dan dunia) kacau-balau lagi-lagi dengan cara yang tak pernah dibayangkan oleh Bin Laden. Perang yang tak populer akan menyulitkan perekrutan tentara. Tapi, selagi Bush mencoba mengakali Amerika tentang biaya perang, ia tak memberikan sokongan dana cukup bagi para prajurit.
Ia menolak memberikan pengeluaran standar yang dibutuhkan untuk, misalnya, kendaraan lapis baja yang anti-ranjau guna melindungi pasukan. Atau, setidakya, menyediakan cukup tunjangan kesehatan bagi para veteran. Ada pengadilan di AS yang baru-baru ini menyatakan bahwa hak-hak para veteran telah dilanggar. (Hebatnya, pemerintahan Obama meminta bahwa hak veteran mengajukan banding mesti dibatasi!)

Kegagalan militer telah memunculkan kecemasan atas penggunaan kekuatan militer. Dan hal ini cenderung mengancam keamanan Amerika. Namun, kekuatan Amerika yang sejati adalah, melebihi ketangguhan militer dan ekonomi, kekuatan lunaknya: otoritas moral.
Dan, yang satu itu pun telah dilemahkan: seketika setelah AS melanggar hak asasi manusia yang mendasar seperti hak untuk tak mengalami siksaan, dunia sontak mempertanyakan komitmennya kepada hukum internasional.

Di Afghanistan dan Irak, AS dan sekutu-sekutunya tahu bahwa untuk mendapatkan kemenangan jangka panjang, hati dan pikiran harus dicuri. Namun, kesalahan demi kesalahan yang dilakukan pada awal perang memperumit perang yang telah pelik itu.
Efek samping yang ditimbulkannya dahsyat: lebih dari satu juta warga Irak tewas, langsung atau tak langsung, akibat perang. Menurut beberapa kajian, sekitar 137.000 warga sipil tewas dengan mengenaskan di Irak dan Afghanistan dalam 10 tahun terakhir. Di antara bangsa Irak sendiri, 1,8 juta pengungsi mencari tempat aman dan 1,7 juta lainnya kehilangan tempat tinggal.

Tak semua konsekuensi berujung bencana. Defisit yang dialami Amerika agaknya akan menimbulkan kendala anggaran. Belanja militer AS nyaris menyamai belanja militer dunia jika disatukan dua dekade setelah era Perang Dingin berakhir.
Beberapa peningkatan belanja anggaran ditujukan ke Irak, Afghanistan dan Perang Global Melawan Terorisme. Namun, banyak dana yang terbuang sia-sia demi senjata akan dipakai untuk membinasakan musuh, yang jelas-jelas tak ada. Kini, dana itu akan didistribusikan ulang, dan AS kiranya akan mengeluarkan biaya lebih kecil untuk mengusahakan keamanan dalam negerinya.

Al-Qaeda tak lagi jadi menyembul jadi ancaman besar setelah peristiwa 11 September 10 tahun silam. Namun, harga yang harus dibayar begitu besar. Kita akan hidup dengan warisan yang ditinggalkannya dalam waktu lama. Berpikir sebelum bertindak memang ternyata penting.



Joseph E. Stiglitz adalah Profesor di Columbia University, peraih Nobel di bidang ekonomi, serta pengarang "Freefall: Free Markets and the Sinking of the Global Economy".


Sumber: vivanews.com

Senin, 12 September 2011

Sambal Goreng


Sambal goreng..hmmmm. Nama masakan ini begitu terkenalnya di Cirebon. Dulu hanya orang-orang tertentu atau saat-saat tertentu saja bisa makan masakan ini. Karena mungkin dulu, harga daging belum begitu terjangkau dikarenakan daya beli masyarakat belum begitu membaik seperti sekarang. Saya masih ingat, kebanyakan kalau mau makan sambal goreng biasanya nunggu lebaran, lebaran haji, pada saat hajatan atau nunggu kiriman (besek) orang hajatan atau selametan.

Saat ini, sambal goreng cirebon sudah lebih dikenal secara luas. Bahkan banyak dipraktekkan oleh para chef terkenal pada acara masak memasak di TV. Ada perbedaan cukup mencolok antara sambal goreng cirebon dengan sambal goreng pada umumnya. Kalau sambal goreng pada umumnya, cabai tidak diiris tipis, alias ditumbuk halus/diblender saja. Tapi kalau sambal goreng cirebon, cabai diiris secara tipis, dan komposisinya lebih banyak cabainya dibanding dagingnya. Tapi tidak pedas, karena setelah diiris tipis lalu dicuci terlebih dahulu.

Jika anda mengunjungi Cirebon, coba luangkan waktu anda untuk mencicipi hidangan yang satu ini. Sambal goreng Cirebon biasa digunakan sebagai salah satu pelengkap pada makanan Sega (Nasi) Jamblang, Sega (Nasi) Lengko, dll.

Beberapa warung/rumah makan di Cirebon yang menyajikan masakan ini antara lain:

v  Nasi Lengko H. BARNO, Jl. Pagongan, Cirebon
v  Nasi Lengko IBU ODAH, Jl. Pekalangan – depan Toko Besi
v  Nasi Ati SANTA, Jl Sisingamangaraja – dpn sekolah St. Maria
v  Nasi Jamblang SAMSON, Jl. Pekiringan – depan Pasar Balong (Jam buka 16.00 – 18.00)
v  Nasi Jamblang MANG DOEL, Jl. Gunung Sari – seberang Grage Mall (Jam buka 4.00 – 14.00)
v  Nasi Jamblang PELABUHAN, Pintu Masuk Barat Area Pelabuhan
v  Nasi Jamblang IBU NOER, Jl. Tentara Pelajar
v  Nasi Jamblang, di depan Pasar Jamblang  Jl. Cirebon-Palimanan

Berikut saya suguhkan resep membuat sambal goreng cirebon. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!!

BAHAN UTAMA:
  1. Cabe merah ½ Kg
  2. Daging tetelan/hati ½ Kg
  3. Pete 2 papan (jika suka)
  4. Garam ½ sdt
  5. Minyak makan 5 sdm
  6. Penyedap rasa
  7. Daun salam
  8. Asem sedikit saja
  9. Gula pasir  2 sdm
  10. Kecap 2 sdm
  11. Serai 1 ikat
BUMBU:
  1. Kemiri 5 biji
  2. Lengkuas 1 ibu jari dimemarkan
  3. Jahe 1/3 besar lengkuas dimemarkan
  4.  Serai 1 ujung jari diiris
  5. Ketumbar 10 biji
  6. Garam 1 sdt
  7. Bawang merah 5 siung
  8. Bawang putih 3 siung


CARA MEMBUAT:
Bahan utama
  1.  Daging direbus ± 1,5 jam (sampai empuk) dalam api yang kecil
  2. Air bekas rebusan daging (kaldu) jangan dibuang
  3.  Lalu daging dipotong dadu
  4. Cabe merah dibuang bijinya kemudian disisir (dipotong tipis) kemudian dicuci lalu ditiriskan
  5. Cabe merah kemudian digoreng
  6.  Tambahkan minyak 5 sdm, garam ½ sdt, serai 1 ikat dan daun salam
  7. Goreng sampai layu dan harum serta airnya tinggal sedikit


Bumbu:
  1. Semua bumbu dihaluskan dan tambahkan 1 sdm cabe merah yang telah diiris dan digoreng sebelumnya
  2. Kemudian bumbu digoreng sampai wangi (tapi jangan sampai kering)
  3. Lalu masukkan daging dan cabe merah yang telah diiris dan digoreng
  4. Tambahkan asem, gula pasir 1 sdm, kecap, penyedap rasa dan kaldu (bekas rebusan daging)
  5. Masak ± 10 - 15 menit
  6. Masakan siap disajikan
Selamat mencoba!!!!